• My facebook

  • online

  • Kategori

  • kalender

    Mei 2012
    S S R K J S M
    « Feb    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

    Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya.

  • Top Rated

  • Watch videos at Vodpod.
  • Blog Stats

    • 1,006 hits
  • Tulisan Teratas

    • Tidak ada

Cerita Cinta..


Malam yang begitu cerah disinari bintang -bintang membuat malam itu menjadi begitu indah, dengan sepeda motornya Iwan berkeliling kota tempat tinggalnya sampai Ia betul-betul merasakan penat menghampirinya, sehingga membawanya ke suatu tempat hiburan malam yang ada di kotanya dan langsung saja Iwan memarkirkan sepeda motornya, namun baru saja Iwan mencoba turun dari sepeda motornya, tiba-tiba saja melintas seorangan gadis membuat jantung Iwan bergetar sangat kencang.

Hai…” sapa Iwan kepada gadis yang sedang berlalu dihadapanya. “Hai juga“… Ujar gadis itu terhadap Iwan sambil melepaskan senyum indahnya, merasa tak mau kehilangan kesempatan, Iwan langsung menghampiri gadis yang berlalu itu dan mengulurkan tanganya tuk berkenalan, “gw Iwan” sambil mengulurkan tanganya mengajak gadis itu berkenalan, “Shanty” dengan bibir tersenyum Shanty mengulurkan tanganya menjabat tangan Iwan.

Kesempatan itu batul-betul tak mau dilewatkan Iwan begitu saja, Iwan mulai memasang aksinya tuk merayu Shanty, semua jurus andalanya dikeluarkan tuk menaklukan Shanty sambil melangkah bersama Shanty menuju pintu masuk tempat hiburan malam itu dan mempersilahkan Shanty tuk masuk lebih dulu, “makasih” ujar Shanty terhadap Iwan yang telah mempersilahkan Shanty tuk lebih dulu melangkah memasuki ruangan tempat hiburan malam, “oh…ia, sama-sama” balas ucapan Shanty.

Rayuan Iwan benar-benar ampuh hingga Shanty bisa diajaknya tuk duduk bersama denganya. “Mas”… sambil melambaikan tangan kananya, Iwan memanggil pelayan di kafe itu, ” ya mas.. mau pesan apa..?” ujar si pelayan sembari menghampiri Iwan dan Shanty…

(Bersambung…)

Rambu-Rambu Oleh Cinta Laura


Cintaku dirimu seorang..!!


Tak kan ada cinta tanpa pengorbanan….
Tak kan ada bahagia tanpa cobaan…
Tak kan ada rindu tanpa perpisahan…
Tak kan ada luka tanpa duka…

Cintaku setulus sang surya slalu menyinari dunia…
Perhatianku kan slalu abadi bagai bintang menemani sang rembulan…
Kukan slalu setia disisimu disetiap malam-malam yang mencekam…
Tulusnya cintaku tak kan dapat diukur bagai dalamnya lautan…

Cinta ini kan slalu abadi tak seperti musim yang slalu silih berganti…
Cinta ini tak kan pernah padam seperti nyala liliin yang akan padam dimakan oleh gelapnya malam…
Cinta ini tak kan pernah pudar seperti goresan tinta yang dimakan oleh waktu…
Cinta ini hanya untukmu,walau kau terlalu sering mencampakanku…

Panasnya gurun pasir takkan melelehkan cintaku padamu…
Terpaan angin topan takkan mengoyahkan cintaku padamu…
Dalamnya lautan samudra tak kan menghanyutkan cintaku padamu…
Rasa cinta ini padamu kan slalu abadi walau raga ini tlah binasa oleh waktu….

Kira2 ngapain y…?


Tiba2 aj gw td pagi bangun tidur n truzz nuju toilet di rumh gw dengan perasaan sadar n lom sadar gw pun g tau, so yg jelas gw melangkah dgn pasti n yakin lw yg gw tuju itu adalah toilet, nmun sesampainya gw didlm toilet gw koq jd bingung mo ngapain…? y udh gw keluar lg dech dr toilet n balek lg ngelanjuti ngorok gw..!!

Setelah skrng gw bener2 sadar dari ngorok gw, gw masih kepikiran sebenarnya gw bangun pagi tadi nuju ke toilet ngapain y..?, dibilng gw sesak buang air tp gw g ngerasa sesak. truz terang aj pe’ saat ini gw truss kepikiran apa maksud n tujuan gw bangun pagi td nuju ke toilet. pikiran itu truss menghantui gw (ichh…jd serem)..!!

kira2 para tmn2 bloger bsa nebak g gw mo ngapain..?

sebelumnya gw minta maaf  lw ad kta yg slh…Trims..!!

Saya bersedia melakukan apapun yg bapak mau…!!


Seorang mahasiswi seksi yang terancam gagal ujian mendatangi kantor dosennya yang masih muda. Dia melirik ke sekililingnya sebentar, menutup pintunya, dan langsung berlutut di hadapan sang dosen sambil memohon.
“Pak Dosen, Saya bersedia melakukan apapun juga agar lulus ujian….”, ujarnya sambil melirik genit.
Lalu sang mahasiswi mendekat ke arah dosennya, menyibakkab rambutnya, menatap matanya penuh arti. “Kalau Bapak masih belum mengerti maksud saya…” bisiknya, “Saya bersedia melakukan apapun, apa saja yang Bapak mau…”
Dosen muda tadi membalas tatapannya, “Apapun?”
“Apapun!”, jawab sang mahasiswi secepatnya.
Suara dosen itu melembut, “Apapun?”
“Apapun….”
Akhirnya Pak dosen berbisik, “Maukah kamu……… belajar?”

CEWEK BUGIL NAIK BECAK..!


Ada seorang cewek bugil naik becak. Sepanjang perjalanan, si tukang becak sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari si cewek tersebut.

Merasa di perhatikan seperti itu, si cewek tersebut menegur:

Cewek : Ada apa mas, kok ngeliatnya seperti itu? Belum pernah ngeliat cewek bugil apa?!!!

Tukang Becak : Oh nggak mbak… Saya cuman memperhatikan, kira-kira nanti mbak mengeluarkan uangnya dari mana???

· · · · · · · · · ·

Ibu, Ke Mana Saja Engkau Selama Ini!


Sorotan mata itu telah kumiliki sejak enam bulan yang lalu. Sorotan dingin serta guratan wajah yang dialiri beban hidup. Aku sudah kasep dengan kedinginan itu. Sorotan yang melumpuhkan angan-anganku tentang kehangatan pemiliknya yang acapku temui bersama cincangan ubi.

Seperti pagi yang sudah-sudah, dalam kebisuan yang meregang kehampaan ikatan naluri dua insan yang tak berhijab. Sebelum berangkat ke sekolah terlebih dahulu aku jajakan bungkusan cincang buatan ibu dari rumah makan kerumah makan. Tapi kali ini aku tidak perlu tergesa-gesa mengayuh  federal tuaku, karena pasca Ujian Nasional telah seminggu.

Bungkusan berisi potongan ubi yang digoreng setelah dikukus, sudah tidak membebani sepedaku lagi, ketika melewati lampu merah, di sana tampak seorang bocah laki-laki mendekap setumpuk koran di dada telanjangnya. Lalu  kudekati.

“Dek, hari ini Riau Pos memuat pegumuman PBUD ‘kan?”
Bocah berusia 8 tahun itu mengangguk bersemangat, mengira aku akan membeli korannya.
“Abang boleh lihat? Bentar… aja!” Aku membuyarkan kegirangannya.
Mata bulat berbinar yang penuh harap, seketika melotot dan mulutnya ikut bersungut. “Melihat berarti membeli, apalagi memegang!!” hardiknya memaksaku untuk beranjak.

Tanpa putus harapan, kukayuh sepeda yang batangnya sudah tak bermerk ke halte, tidak jauh dari lampu merah. Seorang bapak-bapak bertampang sangar, sedang menikmati selintingan tembakau di cerutu kuno dan sebentangan koran. Tubuhnya yang besar serta wajah yang dihiasi jambang yang lebat membuat aku ciut juga, namun apa boleh buat aku harus coba dulu. “Ya Tuhan… semoga dia…” belum sempat aku berada di sampingnya, tiba-tiba sebuah bus berhenti, bapak itu bergegas melipat koran dan menaiki bus.

“Ya…,” aku hanya menghela nafas kecewa, tanpa semangat kunaiki sepeda yang hampir kusandarkan di tiang listrik. “Bagaimana ini, di mana lagi aku bisa lihat koran gratis!” bisik hatiku setengah putus asa. Kayuhanku mulai tak berdaya, sehingga aku pun berhalusinansi, di sebelah kiri pohon Akasia yang rindang melambai ke arahku, menawarkan kesegaran di bawah dekapan dedaunannya yang rimbun. Tanpa piker panjang, kurebahkan sepedaku dan aku pun menyandarkan punggungku di batangnya yang kokoh. Tidak beberapa detik menikmati kesejukan, suara yang tak asing menyapaku.

“Hai… fren… selamat ya… kau diterima di FKIP Kimia Lho…! wah-wah calon guru  nih,” tepukan gulungan koran menyusul mendarat di pundakku.

“Wow… kau rupanya, Teja? Selalu saja hadir dengan membawa apa yang kubutuhkan. Aku baru saja kepusingan nyari koran.”

“Biasa ajalah. O ya, eh iya, aku ikut pergi nemenin kamu interview ya, Rif ?”
“Boleh-boleh! Tapi mana dulu namaku di koran ini? Aku mau lihat sendiri. Sapa tau kamu salah baca lagi.” Mataku sibuk mengamati deretan nama yang tertera di halaman koran.

“Tu ha…, belalakan dikit mata tu kawan…” Teja menghujamkan telunjuknya tepat di nama Syarifudin.
“Eh iya, ya! Kalau gitu kita pulang lagi yuk! Kau kubonceng saja kawan.”

***

Sesampai di tengah halaman, cepat-cepat aku turun dari sepeda tanpa sempat lagi menyandarkannya dengan baik-baik, seraya berlari masuk ke rumah. Kuhampiri sosok laki-laki yang terbaring lemah di sudut ruangan yang berhadapan dengan dapur. “Bah…, Abah… Arif lolos PBUD, Bah! Semoga ini jalan untuk meringankan biaya kuliahku nanti.”
Lengan kurus abah meraih pundakku kemudian bergerak mengusap kepalaku. Dengan berlinangan air mata seraya terbata-bata memenggal kalimat. ”Apa pun langkahmu dalam meraih cita-cita, ayah selalu meridhoimu. Jadilah pahlawan dalam bercita-cita.”

Tatkala aku dan abah larut dalam kehangatan, dari dapur terlihat sosok yang sibuk membuka kukusan, sesekali melirik kami dengan tatapan yang biasa-biasa saja. Sedikit pun ia tidak memberi reaksi atau menanggapi kabar yang kuceritakan. Aku sudah terbiasa menghadapi sikap dingin ibu. Bahkan aku sudah tak ingat lagi dengan kehangatan yang pernah ia berikan. Mungkin itu adalah salah satunya pelengkap penderitaanku selain dari kemiskinan. Ibu terus mengaduk cincangan ubi di kukusan., kurasa ia muak dengan berita yang sedikit pun tak mengubah perekonomian keluarga. Kebisuan tanpa kecairan yang mampu kuciptakan bersama ibu, membuatku membantunya tanpa perintah dan diperintah. Kujerang kuali berisi minyak untuk menggoreng cincangan ubi yang baru selesai diangkat dari kukusan.

***

Pagi-pagi aku bergegas mengantarkan bungkusan cincang ubi ke warung-warung dan rumah makan. Aku tergesa-gesa, hingga aku mampir ke rumah Teja dan memaksanya untuk meminjam sepeda motor ayahnya.
Di perjalanan Teja begitu laju mengendarai Astrea ayahnya. Tatkala sampai di persimpangan jalan tak beraspal, sisa air hujan di beberapa lobang di jalan mengotori celana Apolo hitamku. Kemudian ban motor pun bocor, Karena sangking laju dan jalan yang buruk, ditambah bannya yang sudah tua.
Teja memandangku iba, ”Semangat sobat! Ini kode-kode alam! Sudah kau pelajari, bukan? Etika interview…” Teja mengembangkan senyumannya.

Dengan sedikit terobati rasa was-wasku oleh sikap teja, segera kubantu ia menyeret astrea ke bengkel yang kebetulan tak jauh dari tempat kami berdiri.

“ Teja!”
“Apa sobatku tersayang…?”
“Andai saja Tuhan meminta aku menyerahkan orang yang kucintai, maka aku akan rela ia mengambil ibuku dari pada kamu.”

“Ha, apa yang barusan kau ucapkan, kawan? Eling  dong! Kasih ibu sepanjang masa, kasih sahabat sepanjang persahabatan.” Teja membayar upah bengkel dan kami pun tancap gas.

***

Proses interview telah hamper seminggu kulewati, dengan harapan yang semakin menggebu-gebu, kuingin lolos. Aku yakin aku lolos, sebab aku menjawab semua pertanyaan dengan tepat, dan sejujurnya, termasuk propesi orang tuaku. Aku terus bersabar menanti Teja hadir dengan teriakan ‘good luck my honey!’, ‘hebat kau kawan, traktir-traktir!’ atau apalah yang biasa keluar dari mulutnya. Kesabaranku sebenarnya sudah sangat renta, andai saja tak ditopang oleh ucapan bijak abah yang selalu menyejukkan hatiku.

Hari  Sabtu sore ibu menugasiku memarut ubi untuk membuat bolu kukus pesanan tetangga yang akan mengadakan arisan. Sambil memarut ubi kuperhatikan lekat-lekat wajah tirus ayah yang semakin tak bergairah lagi. Rambutnya kian hari kian berguguran. Aku iba sekali dengan kondisi ayah, telah hampir empat tahun ia tidak menarik oplet lagi, artinya telah hampir 4 tahun pula ia terbaring. Abah, bertahanlah… tunggu aku menjadi orang. Izinkan aku mengabdi.

Ubi yang kuparut telah selesai. Dan kebetulan ibu baru saja pulang dari pasar. Ketika aku melemas-lemaskan pergelangan tangan, Teja datang dengan langkah dan pias wajah tak menunjukkan kegirangan. Perasaanku berubah tak enak. Apalagi kulihat segulungan koran di tangannya. Pelan sekali ia mendekat kepadaku seraya berbisik. ”Sabar sobat, perjuangan belum berakhir, Tuhan mungkin menakdirkan kita ikut SMPTN bersama-sama.”

Aku segera bangkit mendengar ucapan Teja. “Jangan berbicara takdir, Tej! Kalau itu sama sekali tak mungkin. Kau kan tahu, dari PBUD ini saja aku entah kuliah entah tidak.” Kesal.

Teja menatapku tak percaya, “Aku akan membantumu membeli formulir!” ia menmcoba mengertikan aku.
“Simpan bujukanmu, kawan.”

Ibu sibuk dengan pekerjaannya, seperti biasa ia seolah-olah tak pernah dengar apa pun tentang permasalahanku. Dadaku semakin panas, pemandangan yang bergantian di benakku hanyalah wajah ayah yang terbaring lemah dan wajah ibu yang dingin. Aku tak lagi berfikir, untuk membenturkan kepalaku ke tembok rumah yang kulihat seperti susunan roti bantal yang empuk.

***

Kedinginan itu telah usai seiring tetesan terakhir darah dari ubun-ubunku.***

KAKEK JANGAN SEDIH


Ceritanya begini, seorang kakek bercerita ama cucunya tentang kisah penjajahan Belanda tempo doeloe. Di tengah asiknya bercerita tiba tiba si kakek menangis tersedu-sedu di iringi dengan rintihan yang memilukan.

Merasa terbawa suasana cucunya angkat bicara “Sudahlah kek, memang tempo doeloe itu sangat menyedihkan tapi kan sekarang kita udah merdeka…

” Dengan nada agak menyedihkan si kakek menjawab “Cu, bukannya kakek sedih krn tempo doeloe, tapi BIJI KAKEK TERJEPIT DI KURSI ROTAN INI.” (tau kan biasanya kakek kakek cuman make sarung doang tanpa CD dan biasanya kursi malasnya terbuat dari rotan)

H I L A N G


Bintang malam kemanakah ia gerangan?
Tak sedikitpun ia meninggalkan jejak
juga bayang… siang atau malam
Adakah rindu ini harus kugenggam,
Hingga esok hari kujelang…

Ku menyayanginya dari lubuk hati
Tetap merindunya meski t’lah pergi
Ku hanya ingin melihat, namun itu pun tak mungkin lagi
Tidakkah rasa ini harusnya mati

dan hilang dari hidupku ini

MONOPOLI TAFSIR


Banyak hal getir dalam sejarah umat Islam. Tapi, kalau kita bertanya kepada Ahmad bin Hanbal, maka yang paling getir adalah monopoli penafsiran teks-teks agama oleh para penguasa.

Pada tahun 820-an M, khalifah ketujuh Dinasti Abbasiyah, al-Ma’mun, menganut pemikiran kelompok Mu’tazilah bahwa Al-Quran adalah makhluk diciptakan dan tidak azali.

Namun, Ahmad bin Hanbal berpandangan lain: Al-Quran adalah kalam Allah, yang menyatu dengan Zat-Nya. Karena itu, Al-Quran tidak sama dengan bumi atau ciptaan Allah yang lain. la adalah abadi dan azali.

Yang direkam oleh para sejarawan bukan soal Al-Quran makhluk atau kalam Allah. Perbedaan pandangan tersebut mungkin penting. Tapi, yang lebih penting untuk dicatat adalah betapa getir beban yang dipikul oleh Ahmad bin Hanbal akibat monopoli penafsiran teks-teks agama oleh penguasa.

At-Thabari dan adz-Dzahabi dalam karya mereka mencatat rentetan kegetiran Ahmad bin Hanbal dengan “tinta merah” dan air mata. Sementara al-Maprizi menceritakan, “Ketika masyarakat Baghdad merindukan fatwa-fatwa Ahmad bin Hanbal, al-Mu’tashim dan al-Watsiq (dua khalifah Abbasiyah pasca al-Ma’mun) justru memenjarakan dan menyiksanya di hadapan khalayak.”

Ahmad bin Hanbal adalah bintang kejora intelektual pada eranya. Tapi, al-Mu’tashim dan al-Watsiq bersikukuh. Atas nama penafsiran yang dianggap paling benar, siapa pun yang menyuarakan penafsiran berbeda harus disingkirkan.

Para penguasa Abbasiyah itu barangkali lupa, bahwa penafsiran yang dipaksakan melalui pedang dan kekuasaan, maka itu adalah korupsi terhadap kebenaran.

Monopoli penafsiran seperti ini memiliki senarai panjang, dan bisa terulang kapan saja dan di mana saja. Pada kasus Ahmad bin Hanbal, khalifah ke-10 Dinasti Abbasiyah, al-Mutawakkil, akhirnya harus mengakui kesalahan pendahulu-pendahulunya dan menghapuskan monopoli penafsiran yang pernah mereka paksakan.

Mayoritas kaum Muslim, selepas pertengahan abad ke-9 itu, memenangkan pandangan Ahmad bin Hanbal dan faksinya bahwa Al-Quran adalah kalam Allah, bukan makhluk.

Barangkali, bagi Ahmad bin Hanbal, pengakuan atas kesalahan masa lampau tersebut tidak berarti banyak. Betapa terlambat dan percuma. Tetapi, betapa hal itu tetap sangat berarti bagi kita, bahwa penafsiran atas teks-teks agama tak pernah boleh dimonopoli. “Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.” (QS Ali Imran [3]:13



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.